BanyuasinNasional

Raih Akreditasi Paripurna Bintang Lima, Pelayanan RSUD Banyuasin Dinilai Masih Bobrok

35
×

Raih Akreditasi Paripurna Bintang Lima, Pelayanan RSUD Banyuasin Dinilai Masih Bobrok

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Onlineberita.id Jum’at 24 Mei 2024.

Banyuasin – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Banyuasin baru-baru ini menolak pasien dipatok ular, M Azam salah satunya bocah usiah 12 tahun warga Desa Langkan RT. 002 RW. 001 Kecamatan Banyuasin III Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan, jum’at (17/05) lalu diantar keluarganya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Banyuasin sekira pukul 21.00 wib. Tidak mendapat perawatan intensif.

Ironinya, anak dari pasangan Lena dan Ali ini, tergeletak lemah di lGD RSUD Banyuasin hampir satu jam tidak mendapat pertolongan pertama dari petugas, bahkan pasien dipatok ular ini bersama keluarga yang menunggu terang-terangan ditolak perawat yang jaga malam itu, dengan alasan RSUD tidak ada obat anti bisa ular sebaiknya anak ini langsung di bawa ke Palembang.

“Kami keluarga dari M Azam tentu sangat kecewa dengan pelayanan IGD RSUD Banyuasin, keponakan kami yang kondisi tubuhnya mulai lemah akibat patokan ular tidak mendapat pertolongan pertama setelah sampai ke IDG, hampir satu jam kami menunggu berharap mendapat pertolongan, namun harapan itu hampa salah satu perawat menyampaikan agar keponakan kami langsung dibawa ke palembang, sebab Obat Anti Bisa Ular RSUD tidak menyetok,” ucap Zikri, pamannya M Azam.

Ditambahkan Zikri, perawat lGD yang bertugas malam itu menyampaikan, M Azam ini calon pasien ke 4 di patok ular yang ditolak untuk dirawat di RSUD dan mereka memberi saran agar keponakan kami juga segera dibawa ke palembang. Dari sampai ke lGD hingga berangkat ke Palembang pasien dipatok ular sama sekali tidak mendapat pertolongan pertama.

“Jika memang Stok Obat Anti Bisa Ular itu tidak ada, setidaknya pihak rumah sakit melihat dulu kondisi keponakan kami, atau minimal lakukan tindakan pertolongan pertama, kami sudah menunggu lama namun tidak ada hasil yang kami perhatikan petugasnya banyak ngerumpi dari pada bekerja, untung walaupun kondisi sudah pucat nyawa ponakan kami bisa diselamatkan, sampai di Rumah Sakit Umum Mohammad Hoesin Palembang obat anti bisa ular langsung disuntikkan,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Dodi warga Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin lll, kosongnya obat anti bisa di RSUD Banyuasin sangat disayangkan, ditambah lagi sistem pelayanan di RSUD Banyuasin dinilai masih bobrok, terutama IGD sering menelantarkan pasien yang membutuhkan pertolongan.

“Kabupaten Banyuasin terdiri dari 65 persen perairan dan 35 persen daratan, masyarakat nya ada petani padi dan petani perkebunan seperti karet, kelapa dan kelapa sawit, tidak salah jika obat anti bisa ular dan obat jenis anti bisa lainnya tersedia di RSUD ini, mengingat obat tersebut sewaktu-waktu dapat di butuhkan, RSUD Banyuasin ini uangnya banyak untuk beli obat tidak harus minta ke pemkab.” terang Dodi.

Dodi menambahkan, RSUD Banyuasin adalah tempat orang-orang yang sakit membutuhkan pertolongan, dimana pelayanan kesehatan harus ditingkatkan karena yang berobat tidak ada yang geratis minimal pemerintah menjadi penjamin dan obat-obatan juga harus di beli, artinya sentral pelayanan menjadi prioritas utama. Apalagi akhir tahun 2023 lalu RSUD Banyuasin mendapat akreditasi Paripurna bintang lima, artinya sangat tidak wajar ya akreditasi bagus, namun sistem pelayanan ke pasien masih sangat jauh dari harapan.

“Pelayanan RSUD Banyuasin sudah banyak saya dengar kejadian seperti ini, sebelumnya ODGJ asal Empat Lawang yang ditelantarkan sudah 4 – 5 hari baru di urus, lukanya sudah ulatan, setelah tahu akan viral baru dilakukan perawatan dan tindakan, inikan tidak wajar rasa manusiawi tidak tertanam untuk petugas maupun yang memberi tugas,” tuturnya

Terkait keluhan masyarakat terhadap pelayanan RSUD Banyuasin yang masih menyusahkan kekecewaan, Direktur RSUD Banyuasin dr. Ari Fauta, M.Kes saat dikonfirmasi wartawan menyampaikan bahwa Stok obat anti bisa ular memang kosong.

“Obat anti bisa ular itu dipasok dari dinas kesehatan kabupaten Banyuasin, kondisinya memang belum masuk dan sudah coba beli ke pabrik tapi memang kosong”, Jawabnya singkat melalui sambung telpon rabu (22/05) lalu.

Keluhan hal yang sama akan pelayanan RSUD Banyuasin juga banyak dirasakan masyarakat Banyuasin, berharap ini menjadi perhatian serius pemerintah Kabupaten Banyuasin untuk dilakukan pemantauan terkait kinerja di RSUD Banyuasin, jangan hanya seremonial yang menjadi kebanggaan sementara masih banyak masyarakat terlantar datang untuk berobat. (Ma).

You cannot copy content of this page