JAKARTA, 30 April 2026 – Dukungan terhadap atlet disabilitas intelektual dinilai masih belum merata, meski potensi prestasi mereka terus menunjukkan perkembangan signifikan di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini mengemuka dalam pernyataan Komisi Nasional Disabilitas (KND) yang mendorong kolaborasi lintas sektor demi memperkuat pembinaan dan perlindungan atlet bertalenta khusus.
Komisioner KND, Jonna Aman Damanik, menegaskan bahwa kegiatan olahraga yang melibatkan atlet disabilitas intelektual, seperti yang diselenggarakan Special Olympics Indonesia (SOIna), perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. “Kegiatan bertaraf nasional dan internasional dari SOIna sepantasnya didukung semua pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga sektor swasta dan individu,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta.
Ia menjelaskan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pihaknya siap bersinergi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memperkuat ekosistem olahraga inklusif. Kolaborasi tersebut mencakup Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Pemuda dan Olahraga sebagai leading sector.
Persiapan Pesonas 2026
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat SOIna, Warsito Ellwein, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mempersiapkan ajang Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ajang empat tahunan tersebut akan mempertandingkan tujuh cabang olahraga dan ditargetkan diikuti perwakilan dari 30 provinsi.
Namun, hingga kini baru 21 provinsi yang menyatakan kesiapan berpartisipasi. “Jumlah atlet yang terdaftar juga masih sekitar 420 orang, dari target 800 hingga 1.000 peserta,” kata Warsito.
Ia menambahkan, keterbatasan anggaran daerah menjadi salah satu kendala utama. Banyak kontingen harus berangkat secara mandiri dengan dukungan swadaya. Meski demikian, pihaknya tetap mengapresiasi upaya Pemerintah Provinsi NTT dalam memfasilitasi kebutuhan dasar seperti penginapan, layanan medis, dan transportasi selama pelaksanaan acara.
“Kami mengapresiasi kerja keras pemerintah daerah. Untuk daerah dengan keterbatasan, kami sedang mengupayakan skema subsidi, termasuk melalui kegiatan donasi seperti gala dinner,” ujarnya.
Target World Games 2027
Lebih jauh, SOIna menargetkan peningkatan jumlah atlet yang akan dikirim ke ajang World Summer Games 2027 di Santiago, Chile. Jika pada edisi sebelumnya di Berlin tahun 2023 Indonesia hanya mengirim 25 atlet, maka pada edisi mendatang ditargetkan sebanyak 63 atlet dari berbagai cabang olahraga dapat berpartisipasi.
Menurut KND, partisipasi atlet disabilitas intelektual di ajang global tidak hanya soal prestasi, tetapi juga representasi Indonesia dalam menjunjung nilai-nilai hak asasi manusia. Diperkirakan terdapat sekitar 5,2 juta penyandang disabilitas intelektual di Indonesia yang membutuhkan perhatian dan perlindungan setara.
Harapan Dukungan Presiden
Di sisi lain, panitia juga berharap adanya dukungan langsung dari pemerintah pusat. Perwakilan panitia gala dinner, Hari Subagyo, menyebut pihaknya telah mengajukan permohonan audiensi kepada Presiden RI.
“Kami telah berkirim surat melalui Kantor Sekretariat Negara. Kami berharap Presiden berkenan menerima para atlet bertalenta khusus di tengah kesibukan beliau,” kata Hari.
Ajang Pesonas 2026 diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat solidaritas nasional sekaligus membuka jalan bagi atlet disabilitas intelektual Indonesia menuju panggung dunia. (SMSI).












