BanyuasinBeritaKesehatanNasionalSumsel

Banyuasin Duduki Peringkat Kedua Lumbung Pangan Nasional

60
×

Banyuasin Duduki Peringkat Kedua Lumbung Pangan Nasional

Sebarkan artikel ini

Pangkalan Balai, Onlineberita.id – Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, mencatat prestasi signifikan di sektor pertanian dengan menduduki peringkat kedua sebagai lumbung pangan nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi Banyuasin mencapai 1.163.416 ton gabah kering giling (GKG) sepanjang tahun, menempatkannya di bawah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (1.253.718 ton), namun mengungguli Kabupaten Karawang (911.565 ton).

Tak hanya itu, Banyuasin juga tercatat sebagai kabupaten dengan luas panen terbesar di Indonesia, yaitu 228.183 hektar. Angka ini melampaui Indramayu (197.335 ha) dan Bone, Sulawesi Selatan (180.696 ha).

“Alhamdulillah, kerja keras seluruh pihak membuahkan hasil. Optimalisasi lahan rawa yang kami lakukan pada 2024 dan yang akan dilanjutkan pada 2025 menjadi kunci keberhasilan ini,” ujar Bupati Banyuasin, Dr. H. Askolani, SH., MH, didampingi Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sarip, SP., MM, Senin (22/09/2025).

Askolani menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin telah mengoptimalkan lahan rawa seluas 11.700 ha pada 2024 dan menargetkan optimalisasi tambahan 23.538 ha pada 2025. Upaya ini dilakukan untuk mendukung peningkatan produktivitas padi secara berkelanjutan.

Luas baku sawah Banyuasin mencapai 189.345 ha, terdiri atas sawah pasang surut seluas 164.410 ha dan sawah lebak 23.737 ha. Dengan luas tambah tanam mencapai 232.979 ha, produksi padi Banyuasin tahun ini mencapai lebih dari 1,16 juta ton GKG atau setara 647.974 ton beras.

Untuk mempertahankan capaian ini, Pemkab Banyuasin bersama Brigade Pangan dan kelompok tani terus mendorong percepatan tanam, termasuk pada September tahun ini. Selain itu, tim Luas Tambah Tanam (LTT) bersama Kementerian Pertanian secara rutin memantau perkembangan serta mengevaluasi laporan tanam harian.

“Langkah ini penting untuk memastikan seluruh program pemerintah, baik pusat maupun daerah, berjalan optimal demi meningkatkan ketahanan pangan nasional,” kata Askolani.

Selain fokus pada komoditas padi, Banyuasin juga mengembangkan tanaman jagung pakan, terutama di Kecamatan Tanjung Lago dan Muara Sugihan. Para petani juga didorong menanam ubi kayu atau singkong di pematang sawah dan tanggul irigasi sebagai bagian dari program diversifikasi pangan.

Komitmen Banyuasin terhadap ketahanan pangan nasional juga tercermin dari tingginya tingkat serapan gabah dan beras oleh Bulog. Hingga minggu pertama September 2025, serapan gabah mencapai 109.339 ton GKG dan beras sebanyak 19.680 ton. Total serapan setara beras mencapai 78.047 ton, atau hampir 50 persen dari total penugasan serapan Bulog di Sumatera Selatan sebesar 166.000 ton.

Petani Banyuasin juga aktif menjual hasil panen mereka ke penggilingan besar seperti PT Buyung Putra Sembada dan PT Wilmar secara kolektif.

“Kami terus mendampingi dan memfasilitasi petani agar mereka mendapatkan pasar yang baik serta meningkatkan pendapatan mereka,” tambah Sarip.

Dengan capaian ini, Kabupaten Banyuasin semakin memperkokoh posisinya sebagai salah satu sentra utama produksi pangan nasional, sekaligus menjadi model keberhasilan optimalisasi lahan rawa di Indonesia. (*).

 

Editor : Martin 

You cannot copy content of this page