Palembang, (28/5/2025) – Di antara gemuruh sorak-sorai wisudawan yang memenuhi Gedung Serba Guna Whindam di Kompleks OPI Mall Palembang pada 28 Mei 2023, tampak Suwito Winoto SH MH berdiri dengan wajah berbinar dan mata berkaca-kaca saat menerima ijazah Magister Hukum yang telah diperjuangkannya selama lebih dari dua dekade. Dengan suara bergetar penuh emosi, ia menyatakan, “Gelar ini bukan akhir, tapi justru awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Setiap huruf dalam gelar MH ini akan saya pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan masyarakat, karena saya bersumpah akan terus berdiri di garis depan memperjuangkan keadilan, membela yang lemah, dan melawan ketidakadilan dengan segala kemampuan yang saya miliki.”
Perjalanan akademik Suwito merupakan bukti nyata ketangguhan dan konsistensi, dimulai dari bangku kuliah di Universitas Muhammadiyah Palembang pada 1999 hingga lulus tahun 2001, kemudian sempat terputus dua kali – pertama pada 2013 ketika harus mengorbankan studinya di Universitas Muhammadiyah karena kesibukan membela klien-kliennya, dan kedua pada 2017 di STH Sumpah Pemuda saat ia memilih membela seorang janda miskin yang akan diusir dari rumahnya daripada menghadiri ujian akhir. “Saya selalu percaya ilmu itu seperti air yang akan menemukan jalannya sendiri untuk mengalir,” kenangnya tentang keputusan sulit tersebut, keyakinan yang akhirnya membawanya ke Universitas Kader Bangsa pada 2022 dan berhasil menyelesaikan studi tepat waktu berkat dukungan penuh keluarga dan rekan-rekan.
Di balik kesuksesan ini, Suwito mengakui peran besar dua sosok penting dalam hidupnya – istri tercinta yang disebutnya sebagai kekuatan terbesar yang selalu mengingatkannya untuk tidak menyerah bahkan di saat-saat hampir putus asa, serta asisten setianya di kantor hukum yang seperti anak kedua yang dengan dedikasi tinggi menjaga kantor ketika ia harus fokus kuliah. Sebagai Ketua DPD Ferari Sumatera Selatan, Suwito telah membuktikan komitmennya dalam membangun profesi advokat berintegritas melalui berbagai kasus penting seperti pembelaan terhadap masyarakat adat yang hak ulayatnya terancam, kasus perdata korporasi yang melibatkan masyarakat kecil, hingga gugatan PTUN terhadap kebijakan diskriminatif pemerintah daerah.
Kini dengan gelar barunya, Suwito berencana mendirikan klinik hukum gratis untuk masyarakat tidak mampu dan meningkatkan pendidikan hukum bagi advokat muda, seraya berpesan kepada generasi muda hukum, “Ingatlah bahwa profesi kita bukan tentang uang atau popularitas, melainkan tentang seberapa banyak keadilan yang bisa kita tegakkan dan air mata yang bisa kita keringkan. Jangan pernah khianati sumpah profesi kita.” Dengan semangat baru, ia menutup, “Ini baru awal, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama untuk mewujudkan keadilan yang sesungguhnya.”(ad)












