BanyuasinBeritaDaerahHUKUMSumselTrending

Taman Wisata Kolam Damar Wulan Terbengkalai, Warga Pertanyakan Manfaat dan Pengelolaan Anggaran

22

BANYUASIN — Kondisi Taman Wisata Kolam Desa Damar Wulan, Kecamatan Air Salek, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, menjadi sorotan warga. Destinasi wisata desa yang diresmikan Bupati Banyuasin H. Askolani Jasi pada Desember 2020 itu kini terlihat tidak terawat dan disebut sudah sekitar satu tahun tidak lagi ramai dikunjungi.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah bagian kawasan tampak ditumbuhi rumput dan vegetasi liar. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan masyarakat mengenai keberlanjutan pengelolaan objek wisata tersebut.

S (43), warga Desa Damar Wulan, mengatakan kondisi taman sudah berlangsung kurang lebih satu tahun.

“Setahu saya kurang lebih sudah satu tahun. Setahun lebih taman itu tidak terurus dan tidak ada pengunjungnya lagi,” ujar S saat ditemui di sekitar lokasi.

S mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah anggaran yang telah digunakan untuk pembangunan taman. Namun, menurut informasi yang selama ini ia dengar di lingkungan masyarakat, pembangunan taman diduga menggunakan dana desa secara bertahap.

“Kalau masalah dana berapa, saya kurang tahu. Saya orang awam, petani. Yang jelas saya dengar dari awal itu dana desa. Katanya setiap tahun masuk ke situ dan sistemnya bertahap,” katanya.

S juga mengaku pernah mendengar adanya bantuan lain untuk pengembangan fasilitas wisata. Ia menyebut angka sekitar Rp600 juta hingga Rp800 juta, namun menegaskan dirinya tidak mengetahui secara pasti sumber, nilai maupun dokumen anggaran tersebut. Karena itu, informasi tersebut belum dapat diperlakukan sebagai fakta dan masih membutuhkan verifikasi melalui dokumen resmi pemerintah.

Warga Nilai Infrastruktur Lebih Dibutuhkan

Menurut S, persoalan utama bukan semata-mata keberadaan taman, melainkan manfaat pembangunan yang dirasakan masyarakat.

Ia menilai pembangunan jalan, saluran air dan infrastruktur dasar desa akan memberikan dampak lebih langsung bagi kehidupan warga.

“Kalau menurut saya, untuk infrastruktur jalan dan saluran air itu lebih bermanfaat daripada taman. Manfaat taman ini yang dirasakan masyarakat menurut saya masih minim,” ujarnya.

S juga mempertanyakan pengelolaan fasilitas taman ketika kawasan tersebut masih aktif dikunjungi.

“Masyarakat juga tidak tahu waktu masih ramai itu hasilnya ke mana, uangnya ke mana. Setiap ada bantuan beli alat, ujung-ujungnya rusak dan tidak ada gantinya,” katanya.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan dan keterangan narasumber, sehingga memerlukan klarifikasi dari Pemerintah Desa Damar Wulan maupun pihak pengelola.

Prasasti di lokasi menunjukkan Taman Wisata Kolam Desa Damar Wulan diresmikan Bupati Banyuasin H. Askolani Jasi, S.H., M.H. pada Desember 2020.

S berharap pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan dan pengelolaan taman, termasuk membuka informasi mengenai total anggaran pembangunan, sumber dana, bantuan yang pernah diterima, pendapatan taman ketika beroperasi, penggunaan pendapatan, inventaris fasilitas, serta anggaran pemeliharaan.

Hingga berita ini disusun, keterangan S mengenai sumber dan besaran anggaran maupun pengelolaan pendapatan taman belum terkonfirmasi melalui dokumen resmi. Pemerintah Desa Damar Wulan dan pihak terkait perlu diberikan ruang untuk menjelaskan serta memberikan klarifikasi agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat berimbang.

 

You cannot copy content of this page

Exit mobile version